Samarinda, - Dinas Pendidikan Kaltim terus berupaya membenahi sejumlah Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI), sehingga pada 2011 daerah itu akan memiliki Sekolah Bersatandar Internasional (SBI).
”Berbagai upaya terkait mewujudkan SBI terus kami lakukan, diantaranya adalah meningkatkan mutu guru, membangun asrama dan sejumlah persyaratan lainnya,” kata Kepala Bidang Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMK, Dinas Pendidikan Kaltim, Asli Nuryadin.
Menurutnya, untuk meningkatkan RSBI menjadi SBI yang diharapkan terealisasi 2011, maka kualifikasi guru minimal sarjana terus dilakukan. Cara yang ditempuh adalah dengan menguliahkan para guru setiap tahunnya hingga S1. Bahkan jumlah guru yang kuliah hingga S1 dan S2 setiap tahun jumlahnya mencapai ribuan orang.
Kualifikasi guru tersebut sebagai salah satu syarat sartifikasi guru agar mendapat tunjangan dan kenaikan gaji. Tujuan sartifikasi itu di antaranya adalah selain untuk meningkatkan kesejahteraan guru, juga untuk meningkatkan SDM guru dalam memberikan layanan pendidikan.
Kemudian, lanjut Asli, untuk guru yang mengajar di RSBI, minimal harus S2. Selanjutnya, untuk staf pengajar SMA minimal 30 persen guru harus berpendidikan S2. Sedangkan untuk Kepala SMA, minimal harus berpendidikan minimal S2.
“Selanjutnya adalah, para pengajar atau guru di RSBI, minimal harus 70 persen sudah sarjana. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat peningkataan kualitas cara mengajar dan kemampuan siswa menyerap pelajaran,” katanya.
Dikatakan, RSBI tidak hanya untuk mencerdaskan otak kanan siswa saja, namun juga untuk mengasah otak kiri, yakni untuk menerapkan akhlak , budi pekerti, etika moral dan meningkatkan kemampuan dalam berkreasi serta berinovasi dalam kehidupan sehari-hari.
Guna menunjang kreativitas dan kecerdasan dalam berinovasi, maka RSBI dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang, di antaranya adalah perpustakaan yang dilengkapi dengan media digital, memiliki ruang seni budaya dan ruang multi media. ()
***
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 05 Januari 2010
Kamis, 31 Desember 2009
21.000 IJAZAH DIMUSNAHKAN DISDIK KALTIM
Samarinda,- Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Kaltim memusnahkan sebanyak 21.000 lembar ijazah yang tidak digunakan lagi. Pemusnahan itu dimaksudkan agar ijazah tersebut tidak disalah gunakan oleh pihak-pihak tertentu.
”21.000 lembar ijazah yang kami musnahkan dengan cara dibakar ini merupakan ijazah yang tidak terpakai mulai tahun 2007, 2008 hingga 2009,” kata Sekretaris Disdik Kaltim, Musyahrim saat ditemui usai membakar ijazah di halaman Disdik Kaltim, Kamis (31/12).
Pembakaran ribuan ijazah SD, SMP, SMA dan SMK itu disaksikan sejumlah petugas dari Inspektorat Pendidikan Provinsi Kaltim, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kaltim, dan dari Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Samarinda.
Menurut Musyharim, ijazah yang dimusnahkan itu terdiri dari ijazah SD sebanyak 5.104 lembar, SMP 7.242 sebanyak lembar, SMA jurusan IPA sejumlah 3.023 lembar, SMA Jurusan IPS sebanyak 2.582 lembar, dan ijazah SMK sebanyak 1.062 lembar.
Sedangkan sejumlah kabupten/kota yang ijazahnya dimusnahkan adalah dari Kota Balikpapan sebanyak 124 lembar, Bontang sebanyak 129 lembar dan Kota Tarakan sebanyak 230 lembar ijazah.
Sementara ijazah dari Kabupaten Kutai Timur sebanyak 43 lembar, Penajam Paser Utara sebanyak 24 lembar, Paser 100, Berau sebanyak 23, Bulungan sebanyak 39, Malinau 366, Nunukan 529, dan dari Kabupaten Tanah Tidung sebanyak 2 lembar ijazah.
”Ijazah yang kami musnahkan ini merupakan ijazah yang dikembalikan oleh masing-masing kabupaten/kota se- Kaltim, baik saat dikembalikan itu dalam keadaan baik atau rusak,” katanya.
Menurutnya, ijazah dalam keadaan baik itu dikembalikan karena memang saat pendistribusian diberikan lebih untuk mengantisipasi kerusakan. Kemudian ijazah yang dikembalikan dalam keaadan rusak merupakan hal yang lumrah.
Rincian ijazah yang dimusnahkan itu, jika dirinci per kabupaten/kota yakni, Balikpapan dengan rincian SD 2008/2009 sebanyak 93 lembar, SMP 2008/2009 sebanyak 18 lembar, dan SMA jurusan IPS 1 lembar.
Dari Kota Bontang, untuk SD sebanyak 89, SMP 27 lembar, SMA 12 lembar, dan SMA jurusan IPA sebanyak 1 lembar. Semuanya merupakan iajzah 2008/2009.
Kemudian dari Kutai Timur untuk SD 2007/2008 sebanyak 5 lembar, SD 2008/2009 sebanyak 16 lembar, SMP 2007/2008 21 lembar, dan SMP 2008/2009 sebanyak 1 lembar.
”Selanjutnya dari Kabupten Penajam Paser Utara, untuk SD tahun ajaran 2008/2009 sebanyak 9 lembar, SMA KTSP Jurusan IPS 2008/2009 sebanyak 13 lembar, dan SMA 2004 Jurusan IPS tahun ajaran 2008/2009 sebanyak 2 lembar,” Demikian Musyahrim.
***
”21.000 lembar ijazah yang kami musnahkan dengan cara dibakar ini merupakan ijazah yang tidak terpakai mulai tahun 2007, 2008 hingga 2009,” kata Sekretaris Disdik Kaltim, Musyahrim saat ditemui usai membakar ijazah di halaman Disdik Kaltim, Kamis (31/12).
Pembakaran ribuan ijazah SD, SMP, SMA dan SMK itu disaksikan sejumlah petugas dari Inspektorat Pendidikan Provinsi Kaltim, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kaltim, dan dari Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Samarinda.
Menurut Musyharim, ijazah yang dimusnahkan itu terdiri dari ijazah SD sebanyak 5.104 lembar, SMP 7.242 sebanyak lembar, SMA jurusan IPA sejumlah 3.023 lembar, SMA Jurusan IPS sebanyak 2.582 lembar, dan ijazah SMK sebanyak 1.062 lembar.
Sedangkan sejumlah kabupten/kota yang ijazahnya dimusnahkan adalah dari Kota Balikpapan sebanyak 124 lembar, Bontang sebanyak 129 lembar dan Kota Tarakan sebanyak 230 lembar ijazah.
Sementara ijazah dari Kabupaten Kutai Timur sebanyak 43 lembar, Penajam Paser Utara sebanyak 24 lembar, Paser 100, Berau sebanyak 23, Bulungan sebanyak 39, Malinau 366, Nunukan 529, dan dari Kabupaten Tanah Tidung sebanyak 2 lembar ijazah.
”Ijazah yang kami musnahkan ini merupakan ijazah yang dikembalikan oleh masing-masing kabupaten/kota se- Kaltim, baik saat dikembalikan itu dalam keadaan baik atau rusak,” katanya.
Menurutnya, ijazah dalam keadaan baik itu dikembalikan karena memang saat pendistribusian diberikan lebih untuk mengantisipasi kerusakan. Kemudian ijazah yang dikembalikan dalam keaadan rusak merupakan hal yang lumrah.
Rincian ijazah yang dimusnahkan itu, jika dirinci per kabupaten/kota yakni, Balikpapan dengan rincian SD 2008/2009 sebanyak 93 lembar, SMP 2008/2009 sebanyak 18 lembar, dan SMA jurusan IPS 1 lembar.
Dari Kota Bontang, untuk SD sebanyak 89, SMP 27 lembar, SMA 12 lembar, dan SMA jurusan IPA sebanyak 1 lembar. Semuanya merupakan iajzah 2008/2009.
Kemudian dari Kutai Timur untuk SD 2007/2008 sebanyak 5 lembar, SD 2008/2009 sebanyak 16 lembar, SMP 2007/2008 21 lembar, dan SMP 2008/2009 sebanyak 1 lembar.
”Selanjutnya dari Kabupten Penajam Paser Utara, untuk SD tahun ajaran 2008/2009 sebanyak 9 lembar, SMA KTSP Jurusan IPS 2008/2009 sebanyak 13 lembar, dan SMA 2004 Jurusan IPS tahun ajaran 2008/2009 sebanyak 2 lembar,” Demikian Musyahrim.
***
Rabu, 30 Desember 2009
PPU BANGUN SEKOLAH TERPADU SENILAI RP43 MILIAR
Samarinda,- Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus memacu peningkatan mutu pendidikan di daerah itu. Ini karena pendidikan merupakan modal utama dalam meraih masa depan lebih baik.
”Tidak mungkin masa depan seseorang ata suatu daerah, bahkan masa depan bangsa bisa diraih dengan gemilang jika mutu SDM-nya rendah,” kata Kepala Disdik Kabupaten PPU, Rahman Nurhadi di Penajam, Kamis (17/12).
Berdasarkan hal itu, maka pihaknya terus meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mutu pendidikan. Di antaranya yakni dengan mendirikan lagi atau menambah jumlah sekolah terpadu yang pembangunannya tuntas pada 2010.
Sekolah terpadu yang berdiri di Penajam Ibukota PPU ini berdiri di atas lahan seluas 5 hektare. Sementara perkiraan biaya yang akan dihabiskan untuk menuntaskan pembangunannya senilai Rp43 miliar.
”Namanya juga sekolah terpadu, tentu saja di lokasi itu akan berdiri SD, SMP dan SMA. Diharapkan pengelolaan sekolah terpadu nanti semua manajemen di sekolah masing-masing bisa bekerjasama dan saling menjaga,” katanya.
Untuk sekolah kejuruan, lanjutnya, saat ini pihaknya juga tengah membangun sekolah agrobisnis, yakni SMKN 3 Unggulan. Saat ini sekolah tersebut sudah menjalani proses belajar mengajar meski belum semua ruang kelas yang direncanakan terbangun.
SMKN 3 Unggulan ini sudah dua tahun lalu dibuka, sedangkan program keahlian yang sudah dibuka adalah Kultur Jaringan dan Budidaya Tanaman khususnya perkebunan sawit. Ke depan akan dibuka lagi program keahlian baru, terutama yang sesuai dengan permintaan pasar kerja di daerah.
”Sekolah ini berdiri di atas lahan seluas 4 hektare, sedangkan berdasarkan desain yang ada, total anggaran yang dibutuhkan hingga pembangunannya tuntas adalah senilai Rp36 miliar,” katanya.
Pihaknya juga berencana studi banding ke Kabupaten Paser, tepatnya ke SMKN 2 Tanah Grogot karena di sekolah itu telah lebih dulu membuka program budidaya tanaman, khususnya sawit yang dinilai berhasil oleh banyak pihak.
”Kami juga membuka jurusan Teknologi di SMKN 2 Penajam, program keahliannya antara lain Teknik Pendingin, Kompresor, Teknik Elektronika, Teknik Listrik dan program keahlian Tata Boga,” demikian Rahman Nurhadi.
***
”Tidak mungkin masa depan seseorang ata suatu daerah, bahkan masa depan bangsa bisa diraih dengan gemilang jika mutu SDM-nya rendah,” kata Kepala Disdik Kabupaten PPU, Rahman Nurhadi di Penajam, Kamis (17/12).
Berdasarkan hal itu, maka pihaknya terus meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mutu pendidikan. Di antaranya yakni dengan mendirikan lagi atau menambah jumlah sekolah terpadu yang pembangunannya tuntas pada 2010.
Sekolah terpadu yang berdiri di Penajam Ibukota PPU ini berdiri di atas lahan seluas 5 hektare. Sementara perkiraan biaya yang akan dihabiskan untuk menuntaskan pembangunannya senilai Rp43 miliar.
”Namanya juga sekolah terpadu, tentu saja di lokasi itu akan berdiri SD, SMP dan SMA. Diharapkan pengelolaan sekolah terpadu nanti semua manajemen di sekolah masing-masing bisa bekerjasama dan saling menjaga,” katanya.
Untuk sekolah kejuruan, lanjutnya, saat ini pihaknya juga tengah membangun sekolah agrobisnis, yakni SMKN 3 Unggulan. Saat ini sekolah tersebut sudah menjalani proses belajar mengajar meski belum semua ruang kelas yang direncanakan terbangun.
SMKN 3 Unggulan ini sudah dua tahun lalu dibuka, sedangkan program keahlian yang sudah dibuka adalah Kultur Jaringan dan Budidaya Tanaman khususnya perkebunan sawit. Ke depan akan dibuka lagi program keahlian baru, terutama yang sesuai dengan permintaan pasar kerja di daerah.
”Sekolah ini berdiri di atas lahan seluas 4 hektare, sedangkan berdasarkan desain yang ada, total anggaran yang dibutuhkan hingga pembangunannya tuntas adalah senilai Rp36 miliar,” katanya.
Pihaknya juga berencana studi banding ke Kabupaten Paser, tepatnya ke SMKN 2 Tanah Grogot karena di sekolah itu telah lebih dulu membuka program budidaya tanaman, khususnya sawit yang dinilai berhasil oleh banyak pihak.
”Kami juga membuka jurusan Teknologi di SMKN 2 Penajam, program keahliannya antara lain Teknik Pendingin, Kompresor, Teknik Elektronika, Teknik Listrik dan program keahlian Tata Boga,” demikian Rahman Nurhadi.
***
DISDIK PPU TERUS PACU MUTU PENDIDIKAN
Samarinda,- Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus berusaha memacu peningkatan mutu pendidikan di daerah itu. Ini karena pendidikan merupakan modal utama dalam meraih masa depan lebih baik.
”Tidak mungkin masa depan seseorang ata suatu daerah, bahkan masa depan bangsa bisa diraih dengan gemilang jika mutu SDM-nya rendah,” kata Kepala Disdik Kabupaten PPU, Rahman Nurhadi di Penajam, Rabu (16/12).
Berdasarkan hal itu, maka pihaknya terus meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mutu pendidikan. Di antaranya yakni dengan mendirikan lagi atau menambah jumlah sekolah terpadu yang pembangunannya tuntas pada 2010.
Sekolah terpadu yang berdiri di Penajam Ibukota PPU ini berdiri di atas lahan seluas 5 hektare. Sementara perkiraan biaya yang akan dihabiskan untuk menuntaskan pembangunannya senilai Rp43 miliar.
”Namanya juga sekolah terpadu, tentu saja di lokasi itu akan berdiri SD, SMP dan SMA. Diharapkan pengelolaan sekolah terpadu nanti semua manajemen di sekolah masing-masing bisa bekerjasama dan saling menjaga,” katanya.
Untuk sekolah kejuruan, lanjutnya, saat ini pihaknya juga tengah membangun sekolah agrobisnis, yakni SMKN 3 Unggulan. Saat ini sekolah tersebut sudah menjalani proses belajar mengajar meski belum semua ruang kelas yang direncanakan terbangun.
SMKN 3 Unggulan ini sudah dua tahun lalu dibuka, sedangkan program keahlian yang sudah dibuka adalah Kultur Jaringan dan Budidaya Tanaman khususnya perkebunan sawit. Ke depan akan dibuka lagi program keahlian baru, terutama yang sesuai dengan permintaan pasar kerja di daerah.
”Sekolah ini berdiri di atas lahan seluas 4 hektare, sedangkan berdasarkan desain yang ada, total anggaran yang dibutuhkan hingga pembangunannya tuntas adalah senilai Rp36 miliar,” katanya.
Pihaknya juga berencana studi banding ke Kabupaten Paser, tepatnya ke SMKN 2 Tanah Grogot karena di sekolah itu telah lebih dulu membuka program budidaya tanaman, khususnya sawit yang dinilai berhasil oleh banyak pihak.
”Kami juga membuka jurusan Teknologi di SMKN 2 Penajam, program keahliannya antara lain Teknik Pendingin, Kompresor, Teknik Elektronika, Teknik Listrik dan program keahlian Tata Boga,” demikian Rahman Nurhadi.
***
”Tidak mungkin masa depan seseorang ata suatu daerah, bahkan masa depan bangsa bisa diraih dengan gemilang jika mutu SDM-nya rendah,” kata Kepala Disdik Kabupaten PPU, Rahman Nurhadi di Penajam, Rabu (16/12).
Berdasarkan hal itu, maka pihaknya terus meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mutu pendidikan. Di antaranya yakni dengan mendirikan lagi atau menambah jumlah sekolah terpadu yang pembangunannya tuntas pada 2010.
Sekolah terpadu yang berdiri di Penajam Ibukota PPU ini berdiri di atas lahan seluas 5 hektare. Sementara perkiraan biaya yang akan dihabiskan untuk menuntaskan pembangunannya senilai Rp43 miliar.
”Namanya juga sekolah terpadu, tentu saja di lokasi itu akan berdiri SD, SMP dan SMA. Diharapkan pengelolaan sekolah terpadu nanti semua manajemen di sekolah masing-masing bisa bekerjasama dan saling menjaga,” katanya.
Untuk sekolah kejuruan, lanjutnya, saat ini pihaknya juga tengah membangun sekolah agrobisnis, yakni SMKN 3 Unggulan. Saat ini sekolah tersebut sudah menjalani proses belajar mengajar meski belum semua ruang kelas yang direncanakan terbangun.
SMKN 3 Unggulan ini sudah dua tahun lalu dibuka, sedangkan program keahlian yang sudah dibuka adalah Kultur Jaringan dan Budidaya Tanaman khususnya perkebunan sawit. Ke depan akan dibuka lagi program keahlian baru, terutama yang sesuai dengan permintaan pasar kerja di daerah.
”Sekolah ini berdiri di atas lahan seluas 4 hektare, sedangkan berdasarkan desain yang ada, total anggaran yang dibutuhkan hingga pembangunannya tuntas adalah senilai Rp36 miliar,” katanya.
Pihaknya juga berencana studi banding ke Kabupaten Paser, tepatnya ke SMKN 2 Tanah Grogot karena di sekolah itu telah lebih dulu membuka program budidaya tanaman, khususnya sawit yang dinilai berhasil oleh banyak pihak.
”Kami juga membuka jurusan Teknologi di SMKN 2 Penajam, program keahliannya antara lain Teknik Pendingin, Kompresor, Teknik Elektronika, Teknik Listrik dan program keahlian Tata Boga,” demikian Rahman Nurhadi.
***
SMKN2 TANAH GROGOT KEMBANGKAN KEBUN SAWIT
Samarinda, - Meski di SMKN 2 Tanah Grogor, Kabupaten Paser Provinsi Kaltim memiliki lima program keahlian, namun sekolah ini dikenal masyarakat sebagai SMK Pertanian. Ini karena sekolah tersebut memiliki lahan pertanian paling luas.
“Program keahlian yang ada di SMKN2 Tanah Grogot yakni Budidaya Tanaman, Budidaya Ternak, Budidaya Ikan, Agroindustri Pangan dan Program Keahlian Mekanik Otomotif,” kata Wakil Kepala SMKN 2 Tanah Grogot Bidang Kurikulum, Herry Sapto Priyono di Tanah Grogot, Senin (14/12).
Namun masyarakat di Tanah Grogot lebih mengenal sekolah tersebut dengan sebutan sekolah pertanian. Ini karena di sekolah ini memiliki lahan yang sangat luas, yakni mencapai 106,9 hektare. Dari luasan itu sehingga sekolah ini menjadi sekolah yang memiliki lahan paling luas di Indonesia.
Khusus untuk lahan pertanian, lanjutnya, saat ini sekolah tersebut mengelola seluas 35 hektare, yakni 30 hektare untuk perkebunan sawit dan 5 hektare untuk kebun buah. Sementara lahan yang lain digunakan untuk sarana belajar mengajar, asrama siswa, perumahan guru, perkantoran sekolah dan lainnya.
Untuk perkebunan sawit, lanjutnya, semua siswa di program keahlian ini dididik dengan kemampuan perencanaan, pembibitan, pengelolaan produksi tanaman hingga pasca panen. Fasilitas laboratorium kultur jaringan yang tersedia dapat memproduksi atau memperbanyak bibit secara in vitro.
Dikatakan, rata-rata siswa yang telah lulus di sekolah tersebut, terutama yang memiliki kehalian budidaya tanaman telah bekerja di perusahaan besar sawit yang ada di Kaltim. Selain adanya perusahaan sawit yang langsung meminta, sebagian siswa juga melamar di perusahaan yang disukai.
“Hasil panen berupa Tandan Buah Segar Sawit (TBS) di sekolah ini kami jual ke PT.P XIII di Paser. Hasil penjualan digunakan untuk kebutuhan sekolah, pembelian bahan praktek, dan berbagai kegiatan lain yang berhubungan dengan sekolah,” katanya.
Dilanjutkan, siswa juga diwajibkan mengikuti parktek selama tiga bulan di sejumlah perusahaan sawit. Tujuan praktek ini adalah agar siswa menjadi lebih matang dalam menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.
Selain itu, praktek juga dimaksudkan agar menjadi pembelajaran siswa untik membandingkan bagaimana berpraktek di lingkungan sekolah dan bekerja di lingkungan perusahaan sawit. Di samping praktek juga untuk menambah nilai bagi siswa.
“Sejumlah perusahaan sawit yang telah melakukan kerjasama dengan kami untuk melakukan praktek antara lain PT Pradiksi, PT WKP, dan PT. P XIII Long Pinang, Samuntai. Semua perusahaan ini berlokasi di Paser,” demikian Herry Sapto Priyono.
***
“Program keahlian yang ada di SMKN2 Tanah Grogot yakni Budidaya Tanaman, Budidaya Ternak, Budidaya Ikan, Agroindustri Pangan dan Program Keahlian Mekanik Otomotif,” kata Wakil Kepala SMKN 2 Tanah Grogot Bidang Kurikulum, Herry Sapto Priyono di Tanah Grogot, Senin (14/12).
Namun masyarakat di Tanah Grogot lebih mengenal sekolah tersebut dengan sebutan sekolah pertanian. Ini karena di sekolah ini memiliki lahan yang sangat luas, yakni mencapai 106,9 hektare. Dari luasan itu sehingga sekolah ini menjadi sekolah yang memiliki lahan paling luas di Indonesia.
Khusus untuk lahan pertanian, lanjutnya, saat ini sekolah tersebut mengelola seluas 35 hektare, yakni 30 hektare untuk perkebunan sawit dan 5 hektare untuk kebun buah. Sementara lahan yang lain digunakan untuk sarana belajar mengajar, asrama siswa, perumahan guru, perkantoran sekolah dan lainnya.
Untuk perkebunan sawit, lanjutnya, semua siswa di program keahlian ini dididik dengan kemampuan perencanaan, pembibitan, pengelolaan produksi tanaman hingga pasca panen. Fasilitas laboratorium kultur jaringan yang tersedia dapat memproduksi atau memperbanyak bibit secara in vitro.
Dikatakan, rata-rata siswa yang telah lulus di sekolah tersebut, terutama yang memiliki kehalian budidaya tanaman telah bekerja di perusahaan besar sawit yang ada di Kaltim. Selain adanya perusahaan sawit yang langsung meminta, sebagian siswa juga melamar di perusahaan yang disukai.
“Hasil panen berupa Tandan Buah Segar Sawit (TBS) di sekolah ini kami jual ke PT.P XIII di Paser. Hasil penjualan digunakan untuk kebutuhan sekolah, pembelian bahan praktek, dan berbagai kegiatan lain yang berhubungan dengan sekolah,” katanya.
Dilanjutkan, siswa juga diwajibkan mengikuti parktek selama tiga bulan di sejumlah perusahaan sawit. Tujuan praktek ini adalah agar siswa menjadi lebih matang dalam menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.
Selain itu, praktek juga dimaksudkan agar menjadi pembelajaran siswa untik membandingkan bagaimana berpraktek di lingkungan sekolah dan bekerja di lingkungan perusahaan sawit. Di samping praktek juga untuk menambah nilai bagi siswa.
“Sejumlah perusahaan sawit yang telah melakukan kerjasama dengan kami untuk melakukan praktek antara lain PT Pradiksi, PT WKP, dan PT. P XIII Long Pinang, Samuntai. Semua perusahaan ini berlokasi di Paser,” demikian Herry Sapto Priyono.
***
LAHAN SMKN 2 TANAH GROGOT TERLUAS DI INDONESIA
Samarinda, - Di ujung Selatan Provinsi Kaltim, tepatnya di Tanah Grogot, Kabupaten Paser terdapat sekolah yang memiliki lahan terluas di Indonesia. Sekolah yang memiliki lahan seluas 106,9 hektare itu bernama SMKN 2.
“Di SMKN 2 Tanah Grogot yang memiliki asrama siswa dan perumahan guru ini memiliki lima program keahlian,” kata Wakil Kepala SMKN 2 Tanah Grogot Bidang Kurikulum, Herry Sapto Priyono di Tanah Grogot, Senin (14/12).
Dikatakan, lima program keahlian itu yakni, budidaya tanaman. Di program ini pihak sekolah membekali peserta didik dengan kemampuan perencanaan, pembibitan, dan pengelolaan produksi tanaman holtikultura, buah-buahan dan perkebunan.
Sementara dukungan lahan praktek holtikultura seluas 5 hektare untuk kebun jeruk. Untuk kelapa sawit seluas 30 hektare. Sementara fasilitas laboratorium kultur jaringan yang tersedia dapat memproduksi atau memperbanyak bibit secara in vitro.
Di program budidaya ternak, sekolah ini juga membekali siswa dengan kemampuan perencanaan, pembibitan ternak unggas , pengelolaan usaha budidaya ternak unggas dan rumanisasi secara profesional dengan fasilitas penunjang praktek.
Sejumlah fasilitas yang bisa digunakan peserta didik untuk praktek antara lain kandang ternak unggas sebanyak 5.000 ekor. Rinciannya adalah setiap minggu mendatangkan dan menjual 500 ekor ayam potong.
“Selain itu juga ada penggemukan 20 ekor sapi yang didatangkan per periode. Di sisi lain, kami juga mengembangkan usaha jasa pembuatan mesin tetas dan penetasan. Sama dengan budidaya tanaman, budidaya ternak ini juga terakreditasi A,” kata Herry.
Untuk budidaya ikan, lanjutnya, pihaknya harus memberikan ilmu kepada siswa tentang kemampuan perencanaan, pembenihan, pengelolaan produksi serta penanganan pasca panen secara profesional.
Di program ini ditunjang fasilitas praktek berupa unit pembenihan ikan dan udang galah, delapan unit kolam budidaya air tawar, tambak udang windu seluas 4,5 hektare. Di samping juga tersedia peralatan ukur kualitas air.
Program lainnya adalah agroindustri pangan. Program ini menekankan pada industri pengolahan pangan yang berbahan dasar produk pertanian seperti minuman dari sari kedelai dan buah-buahan, makanan ringan dan berbagai produk roti. Fasilita pendukung antara lain dapur kerja skala industri.
Program keahlian kelima adalah mekanik otomotif. Fasilitas penunjang di pogram ini yakni bengkel kerja mekanisme. Di program ini siswa dibekali dengan kemampuan perencanaan, pengelolaan bengkel kerja, perawatan mesin dan lain-lain.
***
“Di SMKN 2 Tanah Grogot yang memiliki asrama siswa dan perumahan guru ini memiliki lima program keahlian,” kata Wakil Kepala SMKN 2 Tanah Grogot Bidang Kurikulum, Herry Sapto Priyono di Tanah Grogot, Senin (14/12).
Dikatakan, lima program keahlian itu yakni, budidaya tanaman. Di program ini pihak sekolah membekali peserta didik dengan kemampuan perencanaan, pembibitan, dan pengelolaan produksi tanaman holtikultura, buah-buahan dan perkebunan.
Sementara dukungan lahan praktek holtikultura seluas 5 hektare untuk kebun jeruk. Untuk kelapa sawit seluas 30 hektare. Sementara fasilitas laboratorium kultur jaringan yang tersedia dapat memproduksi atau memperbanyak bibit secara in vitro.
Di program budidaya ternak, sekolah ini juga membekali siswa dengan kemampuan perencanaan, pembibitan ternak unggas , pengelolaan usaha budidaya ternak unggas dan rumanisasi secara profesional dengan fasilitas penunjang praktek.
Sejumlah fasilitas yang bisa digunakan peserta didik untuk praktek antara lain kandang ternak unggas sebanyak 5.000 ekor. Rinciannya adalah setiap minggu mendatangkan dan menjual 500 ekor ayam potong.
“Selain itu juga ada penggemukan 20 ekor sapi yang didatangkan per periode. Di sisi lain, kami juga mengembangkan usaha jasa pembuatan mesin tetas dan penetasan. Sama dengan budidaya tanaman, budidaya ternak ini juga terakreditasi A,” kata Herry.
Untuk budidaya ikan, lanjutnya, pihaknya harus memberikan ilmu kepada siswa tentang kemampuan perencanaan, pembenihan, pengelolaan produksi serta penanganan pasca panen secara profesional.
Di program ini ditunjang fasilitas praktek berupa unit pembenihan ikan dan udang galah, delapan unit kolam budidaya air tawar, tambak udang windu seluas 4,5 hektare. Di samping juga tersedia peralatan ukur kualitas air.
Program lainnya adalah agroindustri pangan. Program ini menekankan pada industri pengolahan pangan yang berbahan dasar produk pertanian seperti minuman dari sari kedelai dan buah-buahan, makanan ringan dan berbagai produk roti. Fasilita pendukung antara lain dapur kerja skala industri.
Program keahlian kelima adalah mekanik otomotif. Fasilitas penunjang di pogram ini yakni bengkel kerja mekanisme. Di program ini siswa dibekali dengan kemampuan perencanaan, pengelolaan bengkel kerja, perawatan mesin dan lain-lain.
***
ANGGARAN PENDIDIKAN KALTIM RP4,78 TRILIUN
Samarinda, - Pada 2009 total anggaran untuk peningkatan mutu pendidikan di Kaltim senilai Rp4,78 triliun. Nilai itu didapat dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) provinsi dan APBD 14 kabupaten/kota di Kaltim.
”Meski belum genap 20 persen, namun kami bersyukur karena tahun ini anggaran untuk pendidikan bisa meningkat dibanding tahun sebelumnya. Diharapkan anggaran pendidikan tahun depan bisa 20 persen,” kata Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak, Selasa (1/12).
Dengan angka Rp4,78 trilun itu berarti anggaran untuk pendidikan di Kaltim tahun ini sebesar 19,56 persen dari semua APBD, pasalnya total APBD di Kaltim, baik dari provinsi maupun di 14 kabupaten/kota pada 2009 sebesar Rp24,5 trilun.
Menurutnya, untuk memajukan daerah, baik maju dalam perekonomian, infrastruktur, kesejahteraan dan lainnya harus dimulai dari peningkatan mutu pendidikan, karena itu pemerintah harus berkomitmen tinggi dalam peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).
"Untuk mengejar ketertinggalan mutu pendidikan dari daerah lain, khususnya di Pulau Jawa, maka mutu pendidikan, daya saing dan SDM di Kaltim harus diprioritaskan, jika tidak, maka Kaltim akan terus tertinggal," katanya.
Sementara itu, sejumlah program yang dilaksanakan Pemprov Kaltim saat ini antara lain Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun, Pemberian Bea Siswa, Peningkatan Kompetensi Guru, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), Pemberantasan Buta Aksara dan lainnya.
Dalam kaitan peningkatan mutu pendidikan itu, gubernur pun telah mendapat dua penghargaan, yakni Penghargaan Bebas Buta Aksara dari presiden, dan Penghargaan Pacific Countries Social and Economic Solidarity Assosiation (PASIAD) dari Turki.
Untuk Program Wajar 12 Tahun, Kaltim telah membebaskan biaya belajar dari tingkat SD hingga SMA atau yang sederjat, baik negeri atau swasta dengan pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Adanya pemberian BOS tersebut, maka siswa tidak lagi dipungut biaya berupa Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan(SPP), pasalnya biaya belajar ditanggung pemerintah sehingga orangtua dapat menyekolahkan anak sesuai dengan program Wajar 12 Tahun.
Menurutnya, bebas biya ini hanya untuk biaya operasionalnya saja, sehingga tugas orangtua tetap menyediakan seragam, buku pelajaran, sepatu dan lainnya. ”Wajar 12 Tahun saat ini hanya terdapat di tiga provinsi, yakni Kaltim, Sumetera Selatan dan Sulawesi Tenggara,” kata Awang Faroek.
***
”Meski belum genap 20 persen, namun kami bersyukur karena tahun ini anggaran untuk pendidikan bisa meningkat dibanding tahun sebelumnya. Diharapkan anggaran pendidikan tahun depan bisa 20 persen,” kata Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak, Selasa (1/12).
Dengan angka Rp4,78 trilun itu berarti anggaran untuk pendidikan di Kaltim tahun ini sebesar 19,56 persen dari semua APBD, pasalnya total APBD di Kaltim, baik dari provinsi maupun di 14 kabupaten/kota pada 2009 sebesar Rp24,5 trilun.
Menurutnya, untuk memajukan daerah, baik maju dalam perekonomian, infrastruktur, kesejahteraan dan lainnya harus dimulai dari peningkatan mutu pendidikan, karena itu pemerintah harus berkomitmen tinggi dalam peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).
"Untuk mengejar ketertinggalan mutu pendidikan dari daerah lain, khususnya di Pulau Jawa, maka mutu pendidikan, daya saing dan SDM di Kaltim harus diprioritaskan, jika tidak, maka Kaltim akan terus tertinggal," katanya.
Sementara itu, sejumlah program yang dilaksanakan Pemprov Kaltim saat ini antara lain Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun, Pemberian Bea Siswa, Peningkatan Kompetensi Guru, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), Pemberantasan Buta Aksara dan lainnya.
Dalam kaitan peningkatan mutu pendidikan itu, gubernur pun telah mendapat dua penghargaan, yakni Penghargaan Bebas Buta Aksara dari presiden, dan Penghargaan Pacific Countries Social and Economic Solidarity Assosiation (PASIAD) dari Turki.
Untuk Program Wajar 12 Tahun, Kaltim telah membebaskan biaya belajar dari tingkat SD hingga SMA atau yang sederjat, baik negeri atau swasta dengan pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Adanya pemberian BOS tersebut, maka siswa tidak lagi dipungut biaya berupa Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan(SPP), pasalnya biaya belajar ditanggung pemerintah sehingga orangtua dapat menyekolahkan anak sesuai dengan program Wajar 12 Tahun.
Menurutnya, bebas biya ini hanya untuk biaya operasionalnya saja, sehingga tugas orangtua tetap menyediakan seragam, buku pelajaran, sepatu dan lainnya. ”Wajar 12 Tahun saat ini hanya terdapat di tiga provinsi, yakni Kaltim, Sumetera Selatan dan Sulawesi Tenggara,” kata Awang Faroek.
***
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)